Category : Puisi

Halaman ini berisi mengenai puisi dengan berbagai tema seperti cinta, kasih sayang, galau, pendidikan dan lain sebagainya

Sajak Hujan Karya Tere Liye

Sajak Hujan Karya Tere Liye

Lensaremaja.com – Karya – karya dari penulis ternama Tere Liye memang sudah tidak usah diragukan lagi akan kualitasnya. Penulis selalu berhasil membuat para pembacanya tersihir akan cerita-cerita yang beliau tulis. Novel Moga Bunda Disayang Allah
Hidup

Hidup

Pengarang : Taufik Darusman   Angin bertiup kencang Dahsyat Memperagakan kekuasaannya Segalanya terbang berhamburan Pohon bergoyang Daun berjatuhan Serpihan kertas melayang Menyatakan penyerahannya Tak sanggup menahan Tak seimbang melawan pasrah Hujan turun rintik merintik
Pelukis, Penyair

Pelukis, Penyair

Pengarang : Taufik Darusman   Kertas, kanvas Putih kosong, hampa Asap, kopi mengalir Tanpa henti Pelukis, penyair Menunggu tibanya ilham Pagi, siang Sore, malam.   Garis, kata, warna Menunggu dibentuk Pelukis, penyair bercipta karya
Menanti

Menanti

Pengarang : Taufik Darusman   Menantikan sesuatu Yang telah lama Dicari Dengan jerih payah Alangkah bahagia Mereka yang berhasil mudah.   Menantikan sesuatu Yang kian lama Ditahan Ditunda kedatangannya Karena menunggu gilirannya.   Nasib
Penerimaan

Penerimaan

Pengarang: Chairil Anwar   Kalau kau mau kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Ayah

Ayah

Pengarang : Kiarose Tatap binar mata sendu dan kerutan kerutan di wajah mulai terlukis halus Mengiringi bertambahnya usia dalam hitungan waktu dunia Menikmati kesibukan setiap hari demi penuhi tanggung jawab Kepada harta harta bernyawa
Bertemu Kekasih

Bertemu Kekasih

Pengarang : Kiarose Malam ini waktunya bertemu Selalu senang hati tanpa jemu Salam sapaku kepada sang cinta Duduk berdua namun tiada banyak kata   Sepasang mata menatap sepasang mata jua Senyum manis dibalik cahaya
Lamunan Ayah

Lamunan Ayah

Pengarang : Kiarose Ketika malam dijadikan sandaran penat Kau berdiam tenggelam dalam lamunan Raut wajah terkadang layu Tiada menemukan tempat untuk mencurahkan   Atau mungkin memang tak perlu tempat Atau cukup hanya dirimu untukmu
Embun

Embun

Pengarang: Kiarose Ketika datang pagi dingin menggigil Mengubah udara dibalik daun menjadi titik-titik cairan kecil Ku sentuh sehelai daun lalu ku dapatkan basah di jemari mungil Ku ulangi lalu ku rasakan sejuknya tetesan air